Jaroe Bak Langai, Mata U Pasai
Ir. Azhar A.Gani, M.Sc.
(Harian Aceh Independen, 18 April 2008)
Ketika membuka lembaran disertasi Prof Dr. Ibrahim Hasan, kita akan menemukan kata Jaroe Bak Langai, Mata U Pasai (Tangan Memegang Bajak dan Mata Tertuju Ke pasar). Secara filosofi, istilah tersebut menyiratkan bahwa kegiatan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat berbasis kepada pasar. Dalam bahasa modern istilah tersebut di kenal dengan bisnis pertanian (Agribisnis). Tulisan ini ingin mendeskripsikan konsep pertanian berbasis agribisnis dan bagaimana seharusnya agribisnis diimplementasikan untuk mewujudkan perekonomian di Nanggroe Aceh Darussalam.
Sektor pertanian seringkali dimaknai sebagai kegiatan yang berorientasi kepada kegiatan bercocoktanam (budidaya) dan memelihara ternak. Pemahaman itu disebut dengan pertanian dalam arti sempit. Intinya kegiatannya adalah menggunakan input produksi seperti benih, pupuk dan tanah dibantu tenaga kerja sehingga menghasilkan output baik hasil tanaman maupun ternak dengan tujuan untuk memenuhi konsumsi keluarga atau lazim disebut pertanian subsisten. Namun demikian, sektor pertanian tidak hanya berorientasi produksi primer yaitu bagaimana menghasilkan produksi tanaman ataupun ternak sebagaimana jamak kita lihat di masyarakat. Sektor pertanian dalam arti luas dikenal sebagai agribisnis atau pertanian komersil. Agribisnis merupakan sebuah konsep yang memandang pertanian suatu sistem yang terdiri dari lima subsistem dimana antar subsistem saling terkait satu sama lain.
Subsistem Agribisnis: Apa dan Bagaimana
Subsistem agribisnis tersebut yaitu subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi (Agroinput). Subsistem ini berada di lini awal atau pra produksi. Pelaku agribisnis pada subsistem agribisnis menyediakan sarana produksi berupa benih, pupuk, obat-obatan maupun alat dan mesin pertanian untuk kegiatan menghasilkan produk pertanian maupun peternakan. Kegagalan atau ketidakmampuan pelaku agribisnis menyediakan sarana produksi berpengaruh pada subsistem produksi. Kasus-kasus kelangkaan pupuk maupun pakan ternak merupakan salah satu contoh keterkaitan subsistem produksi dengan subsistem penyediaan dan pengadaan sarana produksi. Pelaku agribisnis pada subsistem ini relatif lebih sedikit dibandingkan pelaku agribisnis pada subsistem produksi. Oleh karena itu, pemerintah daerah kedepan sudah harus memikirkan untuk membangun industri penggadaan benih, serta alat-alat dan mesin pertanian paling tidak untuk memenuhi kebutuhan pelaku agribisnis di Provinsi Nanggroe Aceh Darusssalam. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi seperti bibit kelapa sawit dan karet maupun bakalan dan pakan ternak harus didatangkan Sumatera Utara.
Subsistem produksi (Agroproduksi). Kegiatan petani atau peternak bercocok tanam atau memelihara ternak merupakan salah kegiatan agribisnis yang berada pada subsistem ini. Pelaku agribisnis yang paling dominan berada subsistem ini dengan profesi sebagai petani dan peternak. Melihat dari potensi agroklimatologi, maka sudah seharusnya konsep kawasan sentra produksi dengan mengandalkan komoditas unggulan berdasarkan potensi lokal terus ditumbuhkembangkan. Dengan demikian, ketika melihat Nanggroe Aceh Darussalam dalam peta komoditas pertanian dengan segera kita ketahui komoditas andalan yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten/kota. Dengan kata lain, setiap kabupaten/kota harus memiliki minimal satu komoditas unggulan untuk meningkatkan daya saing produk baik di pasar lokal maupun luar negara. Komoditi unggulan ini memiliki keunggulan komperatif yang tidak sebagai potensi dasar untuk pengembangan lebih lanjut.
Subsistem pengolahan (Agrindustri). Karakteristik produk pertanian yang bersifat musiman, mudah rusak dan tidak tahan disimpan lama menyebabkan nilai tambah produk pertanian lebih rendah dibandingkan produk industri. Oleh karena itu, hasil produksi pertanian dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang tahan disimpan lama dan mempunyai nilai ekonomi serta tersedia sepanjang tahun. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan Agroindustri memiliki komoditi andalan seperti kelapa sawit dan karet di Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Barat dan Nagan Raya. Komoditi kakao di Kabupaten Pidie dan Aceh Utara, nilam dan pala di kabupaten Aceh Selatan. Komoditi tanaman pangan seperti kedelai di kabupaten Bireun kacang tanah dan jagung masing-masing di kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Tenggara. Serta yang tidak kalah pentingya adalah komoditi sayur-sayuran dan buah-buahan serta kopi di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri) selain dapat meningkatkan nilai tambah juga dapat menyerap tenaga kerja sehingga angka pengangguran dapat berkurang serta perekonomian daerah juga meningkat.
Subsistem pemasaran (Agroniaga). Hasil produksi pertanian selain dikonsumsi oleh produsen juga dipasarkan untuk keperluan konsumen. Jaminan pasar merupakan syarat mutlak pembangunan pertanian. Sudah saatnya petani sebagai pelaku agribisnis merubah kebiasaan menjual produk pertanian yang dapat dihasilkan menjadi menghasilkan produk pertanian yang dapat dijual. Pusat informasi harga pertanian berbasis informasi dan teknologi perlu dikembangkan di kawasan-kawasan sentra produksi sehingga memudahkan petani dan pemangku kepentingan lain mengakses informasi pasar produk pertanian serta pergerakan harga produk pertanian lokal maupun mancanegara dari waktu ke waktu.
Subsistem penunjang (Agrosupport). Subsistem penunjang dalam sistem agribisnis merupakan komponen penunjang. Diantara komponen penting yang terdapat dalam subsistem ini adalah kelembagaan pendidikan dan penyuluhan, kelembagaan penelitian dan pengembangan, serta kelembagaan keuangan. Keberadaan kelembagaan tersebut untuk mengembangkan agribisnis di Nanggroe Aceh Darussalam sudah terpenuhi. Lembaga pendidikan mulai dari jenjang sekolah menengah kejuruan pertanian sampai ke jenjang Sarjana (S1) dan Pasca Sarjana (S2) dibawah naungan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala diharapkan terus berkembang dan memberikan kontribusi yang nyata untuk mengerakkan agribisnis di bumi Aceh. Demikian pula dengan lembaga penyuluhan, tenaga penyuluh diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam mentransfer teknologi pertanian kepada masyarakat tani. Keberadaan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) diharapkan mampu melahirkan penyuluh andal sebagai mitra pelaku agribisnis di pedesaan. STPP tersebut akan memberikan kontribusi untuk memenuhi program pemerintah yaitu satu desa satu penyuluh. Selain itu, kelembagaan keuangan merupakan unsur pendukung agribisnis yang tidak kalah pentingnya. Persoalan klasik yang sampai hari ini selalu dihadapi pelaku agribisnis adalah masalah permodalan. Permodalan selalu dijadikan sebagai penyebab rendahnya pendapatan dikarenakan ketidakmampuan petani membeli sarana produksi untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Program Kredit Peumakmue Nanggroe (KPN) yang diluncurkan pada tahun 2007 oleh Gubernur Irwandi Yusuf merupakan salah satu terobosan untuk pelaku agribisnis mengakses permodalan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, menginggat pentingnya permodalan bagi pelaku agribisnis ke depan perlu difikirkan untuk mendirikan sebuah lembaga keuangan yaitu Bank Pertanian Aceh (Agricultural Bank of Aceh).
Untuk membentuk sebuah sistem agribisnis yang kokoh kelima subsistem tersebut saling berkaitan satu sama lain. Selain itu, antar subsistem agribisnis harus terdapat keterkaitan ke depan (forward linkage) maupun keterkaitan kebelakang (backward linkage). Dengan demikian, sektor pertanian berbasis agribisnis sebagai salah satu program prioritas dalam pemerintahan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar dapat membumi di Nanggroe Aceh Darussalam.
Jumat, 12 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar